Setelah Ahli Madya, Kemudian Sarjana (Teknik)

Standard

Sekolah lebih tinggi lagi, begitu katanya

Ya, saya adalah seorang mantan siswa SMK (STM) yang mungkin tidak sesuai (pada jalurnya). Pada dasarnya sasaran lulusan dari siswa SMK sendiri adalah menjadi insan yang unggul, berkompetensi, dan kompetitif di dunia usaha atau dunia industri.

Namun, hal itu tidak saya lakukan.
Bagi saya, pendidikan itu (sangat) penting.

Maka dari itu saya sudah merencanakan setelah lulus SMK lanjut kuliah, kemudian setelah lanjut kuliah D3 lanjut lagi S1, dan insya Allah lanjut lagi S2, kemudian S3.

Timbul pertanyaan dari teman-teman,
“Kenapa ga lanjut kerja? Padahal kan kita dari STM (SMKN 1 Cimahi/STMN Pembangunan Bandung) banyak tempat kerja yang mau hire kita”
“Kenapa jadi murtad jurusan?”
“Kenapa sekolah mulu sih?”
“Kapan berkontribusinya?”
“Kapan ngehasilin?”
“Loh kuliah lagi?”
“Kapan nikah?”

Oke pertanyaan paling terakhir abaikan saja

Saya akan menjawab beberapa pertanyaan tersebut,
Pada postingan baheula saya, telah saya bahas mengenai “Diskriminasi Terhadap Siswa SMK di Perguruan Tinggi”. Itu adalah alasan awal saya, mengapa saya melanjutkan ke pendidikan dengan jenjang yang lebih tinggi, jadi silahkan dibaca terlebih dahulu. Continue reading

Advertisements

Sabar, kan lagi puasa

Standard

Sering mendengar kata-kata itu pas bulan Ramadhan kan?
Atau kata-kata yang lainnya,

“Jangan marah-marah, nanti puasanya batal”
“Untung gua puasa, kalo ga udah gua kepret”
“Udah buka ini, ga apa-apa liat ‘nganu’ lah ya”

Lah, lantas kalau udah buka puasa
Bisa marah-marah?
Lantas, kalau udah ga puasa
Bisa “ga sabar-sabar”, lagi?
Lantas, kalau udah ga bulan Ramadhan
Bisa melakukan hal-hal yang berbau maksiat dan membawa mudharat, lagi?

Oh iya mengenai marah
Marah tidak membatalkan puasa, tapi hanya mengurangi pahalanya. [1]

Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata-kata kotor, dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151) 

Bukankah bulan Ramadhan itu bulan pendidikan dan pelatihan?
“Syahrul tarbiyyah”

Dalam buku Al-Islam, Said al-Hawwa menuliskan, pada dasarnya Ramadhan merupakan madrasah (sekolah) [2]

Apa yang kita dapat kalau hanya kuat menahan lapar dan dahaga?
Sedangkan hawa nafsu kita tak bisa kita bendung

Maka dari itu, karena bulan Ramadhan adalah syahrul tarbiyyah, madrasah tadi
Di sebelas bulan lainnya kita sepatutnya mengaplikasikan, apa yang terlatih selama satu bulan penuh ini
Bukannya, berpikiran “ah ga puasa ini, bebas lagi”
Wah udah kayak setan aja yang lepas dari belenggunya

Karena apa makna, esensi dari Ramadhan sendiri kalau kita di sebelas bulan lain tetap begitu-begitu saja, ya kan?
Atau dalam jangka pendeknya, ketika sudah lewat waktu buka kita bisa maksiat sebebasnya, yah sayang dong usaha dari subuh sampai maghribnya

Orang yang dapat menahan amarahnya adalah orang yang kuat

“Yang namanya kuat bukanlah dengan pandai bergelut. Yang disebut kuat adalah yang dapat menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609).
Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan benar-benar kembali fitri
Ini juga merupakan self-reminder untuk saya pribadi

Bukan berarti saya ga pernah salah, jadi menggurui, paling benar, ga pernah marah; bukan!
Saya juga manusia tak luput dari salah dan khilaf

Bukankah tugas Muslim itu mengingatkan sesama Muslim dalam kebaikan dan kebenaran?

Pasti mau kan kalian berada di shirrotol mustaqim?

Referensi :

1. https://rumaysho.com/8105-marah-apakah-membatalkan-puasa.html

2. https://suaraguru.wordpress.com/2013/07/19/ramadhan-bulan-pendidikan-karakter/

-Reza Maliki Akbar

Xiamen, Fujian, Cina

Dibuat : 2 Juni 2016

Tak selamanya “sing waras ngalah”

Standard

Terkadang ungkapan “sing waras ngalah” tidak dapat diaplikasikan ke dalam semua aspek kehidupan.

Apabila yang waras selalu mengalah, berarti dunia ini nantinya dikuasai “orang gila” dong?

Ya, seperti “diam itu emas”, tidak selamanya diam itu emas. Bukankah semakin banyak orang baik yang diam, semakin banyak pula kedzaliman yang terjadi?
Di sini saya hanya berusaha untuk mengingati teman-teman untuk saling meluruskan.

Hidup seperti anak panah

Standard

Anak panah tak pernah terlepas dari busur panahnya.

Percuma, ada anak panah saja tapi tidak ada busurnya. Kita tak kan bisa memanah tentunya.

Ada hal yang dapat kita petik dari benda-benda ini. 

Kita perlu menarik mundur anak panah dengan busur sehingga anak panah tersebut melesat pada satu tujuan.

Apa artinya? Artinya adalah…

Terkadang kita harus kita harus men-set-back diri kita untuk melakukan percepatan dalam tujuan hidup kita.